Breaking News

Ribuan Rumah di Aceh “ Tenggelam Secara Estetika dan Fungsi" Karena Peninggian Jalan

,
Ribuan Rumah di Aceh “ Tenggelam Secara Estetika dan Fungsi" Karena Peninggian Jalan

Oleh: Tezar Azwar M Sc. Pemerhati Masalah Perkotaan

MIMBARACEH.COM, BANDA ACEH -- Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tahun, banjir selalu menjadi masalah ,bahkan tidak jarang sampai melumpuhkan kegiatan perekonomian dan sosial. Hal ini diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setiap tahun daerah yang terkena imbas banjir semakin banyak.

Biasanya lantaran banjir yang semakin parah pemerintah daerah mengatasinya dengan cara instan dan yang paling populer dilakukan adalah dengan meninggikan badan jalan. Pemikirannnya adalah bahwa :

-  Jalan yang tinggi akan membuat air tidak menggenangi jalan lagi

- Bahwa kendaraaan akan bisa melewati jalan yang biasanya banjir dengan lancar.

Sayangnya, solusi semacam ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Justru bisa dibilang peninggian jalan membuat masalah baru. Memang jalan raya atau lingkungan yang ditinggikan tidak lagi terendam didalam air, namun efek samping lainnya adalah :

- Rumah-rumah penduduk yang berada disamping jalan yang ditinggikan menjadi tergenang air lantaran air yang       biasanya berada dijalan melebar ke samping.

- Karena tidak semua jalan yang ditinggikan dalam waktu bersamaan, sebagian air justru menjadi terperangkap dan   tidak bisa mengalir, baik keselokan maupun ke sungai.

- Saluran air tidak diperbaiki, sehingga masalah sebenarnya justru tidak terselesaikan.

- Fungsi pencahayaan tidak maksimal karena peninggian badan jalan

- Debu yang bertambah akibat badan jalan yang tinggi.

Perlunya koordinasi dengan masyarakat sekitar badan jalan, genangan ketika hujan lebat tidak bisa dihindari karena permukaan rumah masyarakat jauh dibawah permukaan badan jalan belum lagi dari kacamata estetika perumahan itu sendiri.

Contoh kecilnya saja di desa kampung mulia dan kampung keramat hampir semua rumahnya yang berusia dia atas 15 tahun permukaan badan jalan sudah jauh diatas rumah rumah masyarakat bahkan ada yang sudah sejajar atap, di jalan sudirman Banda Aceh di depan mata dinas Bina Marga provinsi Aceh.

Jalan yang relatif masih baik kondisinya ditinggikan dan merusak estetika salah satu jalan protokol di kota banda aceh tanpa alasan yang gagal dipahami akal sehat penulis yang kebetulan berdomisili dijalan yang sama .

Dalam skala yang lebih luas berapa ribu rumah yang terkena efek dan bayangkanlah berapa ratus milyar investasi rakyat, extremenya penulis mengistilahkan investasi hasil cucuran keringat rakyat untuk tempat tinggal sebagai kebutuhan pokoknya disiasiakan dan dianggap remeh oleh perencanaan yang tidak matang dan kesan tidak mau repotnya pemerintah untuk mencari solusi masalah yang sudah menahun terjadi ini.

Tentunya sangat tidak bijak jika kritik dari penulis tidak disertai saran dan solusi, dari sisi tekhnis teknologi pengerukan dan Recycling dimana badan jalan dikeruk terlebih dahulu sehingga level ketinggian tetap sama seperti sebelumnya dan hasil aspal yang dikeruk direcycle sehingga menghemat penggunaan bahan baku aspal baru. Sistem ini tentunya sangat mungkin dilaksanakan karena teknologinya yang tidak begitu rumit dan malah dapat banyak menghemat uang Negara.

Akhir kata mudah mudahan tulisan ini dapat mewakili paling tidak “Silent majority” rakyat yang merasa terzalimi dengan perencanaan yang kurang matang dan diharapkan pihak pihak terkait dapat mencari solusi untuk kondisi perumahan dan lingkungan yang lebih baik di ibukota provinsi yang kita cintai ini.

Komentar

Loading...