Breaking News

Mazhab dan Pencarian Kebenaran dalam Islam

,
Mazhab dan Pencarian Kebenaran dalam Islam

Penulis yakin semua umat Islam sepakat bahwa ajaran Islam berdasar kepada Al-qur'an dan hadis. Dua sumber ini, untuk dapat diamalkan secara baik, mesti ditafsirkan dan dipahami terlebih dahulu. Hanya ayat qath`i dilalah yang mesti diamalkan tanpa penafsiran (tidak memerlukan tafsir). Agar pemahaman dan penafsiran dianggap benar dan dapat diterima, maka dia mesti dilakukan dengan metode yang memenuhi persyaratan ilmiah dan sesuai dengan akal sehat (hati nurani, pemikiran jernih). Dengan demikian hampir dalam semua ibadah dan amalan yang kita kerjakan ada aspek penafsiran/ pemikiran manusiawinya, sehingga ibadah tersebut tidka dapat kita katakan seratus persen wahyu.

Para ulama berusaha menafsirkan Al-qur'an dan hadis, dan menyusun hasil penafsiran dan pemahaman tersebut secara sistematis. Sebagian kecil ulama berhasil menyusun metode sendiri untuk menafsirkan Al-qur'an dan hadis, dan lebih dari itu dapat menyusun hasil pemikirannya secara relatif sistematis dan menyeluruh. Ketika pendapat dan metode para ulama yang relatif sistematis dan menyeluruh ini diterima, dikembangkan dan diajarkan oleh murid-muridnya maka pemikiran tersebut meningkat kedudukannya dan dihargai sebagai mazhab. Inilah yang terjadi pada beberapa ulama besar kita seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi`i, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Hasan al-Asy`ari, Abu Manshur al-Maturidi, al-Muhasibi, Ibnu Hazm, Al-Ghazali, Ibnu Taymiyyah, Asy-Syathibi dan beberapa yang lainnya. Mereka dapat kita sebut sebagai manusia paripurna karena mempunyai ilmu yang dalam dan beberapa kelebihan lain, yang menjadikannya kita hargai sebagai ulama besar (imam, tokoh mazhab).

Tetapi sebagai manusia mereka pasti mempunyai kelemahan dan kekurangan, walaupun mereka sudah kita hargai dan kita sebut sebagai ulama besar atau imam mazhab. Kalau kita ingin mencari ulama yang sempurna yang tidak mempunyai kekurangan, maka upaya itu akan sia-sia, karena yang ma`shum hanyalah Rasulullah. Sebagai manusia pasti ada pemikiran mereka yang kita anggap kurang tepat, yang mungkin dirasakan oleh sebagian orang, akan lebih baik sekiranya diubah atau diganti. Hal ini adalah wajar, karena memang demikianlah adanya. Sepanjang bacaan penulis, para imam mazhab pernah memberi jawaban yang berbeda untuk masalah yang sama (hampir sama), sehingga ada dua atau tiga qaul untuk suatu masalah. Imam syafi`i sebagai contoh yang agak ekstrim mengubah banyak pendapatnya ketika dia pindah dari Irak ke Mesir, sehingga dalam mazhab Syafi`i dikenal adanya qaul qadim dan qaul jadid. Sekiranya fakta sejarah ini kita perhatikan (walaupun tidak secara teliti sekali), kita akan sampai pada kesimpulan bahwa keragaman dalam memahami Al-qur’an (adanya berbagai mazhab dan aliran dalam Islam) adalah fakta sejarah yang tidka mugkin ditutup-tutupi. Dengan kalimat lain dapat kita katakan, adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam memahami Islam atau menjelaskan Islam, sudah merupakan keniscayaan yang tidak mungkin kita hapus.

Sekiranya hal ini dapat kita pahami (dan saya rasa tidak terlalu susah untuk dapat memahaminya), maka marilah kita merenung dan belajar untuk menahan diri. Marilah kita coba mencari keterangan, dan memikirkan apa yang mendorong seorang ulama menempuh jalan yang berbeda atau membuat pendapat yang tidka sama dengan ulama lain. Mari kita pelajari bagaimana jalan pikiran dan bagaimana keadaaan zaman sehingga mendorong seorang ulama mengeluarkan pendapat, yang oleh sebagian orang dianggap aneh, dianggap sesat bahkan kafir (murtad). Saya rasa sekiranya kita mau mencari tahu, mau membaca tulisan ulama (cendekiawan) tersebut dengan sungguh-sunggguh, menggunakan logika yang jujur serta hati yang jernih dan terbuka, maka saya yakin si pembaca tersebut tidak akan sampai hati untuk mengeluarkan tuduhan yang buruk kepadanya. Kalau ada pendapat atau bagian tertentu yang dianggap salah dlm tulisan ulama tersebut, maka jawab dan jelaskan dengan argumen yang kuat, tunjukkan apa yang salah dan kenapa salah. Tunjukkan juga bagaimana yang anda anggap lebih tepat dengan argumen yang logis, dalil yang memenuhi syarat, dengan bahasa yang santun, meyakinkan dan menggembirakan. Saya yakin seorang sarjana apalagi yang menganggap dirinya “ulama pembela umat”, sanggup dan mampu menunjukkan kesalahan, kekeliruan atau kesilapan yang dia temukan dalam sebuah tulisan, tanpa perlu menunjukkan emosi yang tidak terkendali, tanpa perlu mengeluarkan tuduhan-tuduhan kotor, apalagi fitnah (yang kadang-kadang tidak dapat diterima oleh akal sehat).

Saya yakin group WA ini dan banyak group WA lain, dibuat untuk menyambung silaturrahim, membuka wawasan, mencerahkan pemahaman agama dan mendorong peningkatan pengamalannya, sehingga peristiwa memalukan seperti yang dipertontonkan sebagain saudara kita di Masjid Oman, tidak akan terulang lagi. Karena hal tersebut marilah kita tidka menyebarkan berita hoax, tidka menggunakan kata-kata kasar, tidka menuduh sesat apalagi murtad secara sembarangan. Kalau ada yang salah, kritiklah dengan santun. Mungkin mereka telah melakukan berbagai hal yang baik (bahkan berat) untuk mensejahterakan dan membela umat tetapi kita tidka tahu, sehingga kritikan kita hanya menunjukkan bahwa kita ibarat katak yang berada di bawah tempurung. Mungkin dia tersilap, atau mungkin juga dia melakukan kesalahan karena “ijtihad” yang keliru, sehingga dapat dianggap sebagai disengaja. Dalam keadaan ini marilah kita berbaik sangka. Tahan emosi buruk anda dan jangan diledakkan terlau cepat. Kita perlu ingat bahwa Rasulullah telah bersabda, usaha seorang ulama untuk mencari kebenaran (tentu, dengan metode yang memenuhi syarat) akan dihargai dengan satu pahala walaupun dia hanya sampai pada kesimpulan yang keliru. Usaha tersebut akan dihargai dengan dua pahala sekiranya sampai pada kesimpulan yang benar.

Dengan kata lain, Rasulullah melalui hadis, menghargai setiap usaha untuk mencari kebenaran yang dilakukan para ulama, walaupun tidka sampai kepada kesimpulan yang benar. Karena hal tersebut janganlah kita berburuk sangka kepada saudara seagama yang kebetulan berbeda pendapat atau mazhab dengan kita. Pemahaman atas Islam telah beragam sejak dahulu dan akan terus beragam sampai ke hari kiamat kelak. Ulama kita sangat sedikit jumlahnya dan kalau sebagian dari ulama yang sedikit ini kita tuduh sesat pula, maka secara tidak disadari kita telah menjadikan umat ini terkotak-kotak dan terpecah belah, dan mungkin silaturrahim diantara kita pun akan terputus. Kita tidak akan mempunyai panutan atau tokoh yang dapat menyatukan kita, karena mereka telah kita kerdilkan, ke dalam kotak-kotak mazhab yang sebagiannya dituduh sesat tanpa alasan yang memenuhi syarat. Allah SWT berfirman, kalau Dia mau maka Dia akan menjadikan semua manusia sebagai satu umat saja. Tetapi Allah menjadikan manusia bersuku-suku dan bergolongan-golongan untuk saling kenal (bersilaturrahim) (al-Hujurat ayat 14). Marilah kita hidupkan silaturrahim dengan semangat saling menghargai. Marilah kita gunakan kata-kata santun yang bernada merangkul dalam berkomunikasi. Hindarilah kata-kata kasar apalagi fitnah yang tidka patut diucapkan oleh seorang muslim yang mengaku beriman, apalagi ketika dia sudah dituakan, ditokohkan dijadikan penceramah atau dijadikan panutan. Mari kita pererat silaturrahim dan saling menghagai diantara kita. Wallahu a`lam bish-shawab wa ilayh-il marji`` wa-l ma.

Penulis : Prof. Al Yasa' Abu Bakar

Komentar

Loading...