Breaking News

KEMANUNGGALAN ABRI dan RAKYAT"

,
KEMANUNGGALAN ABRI dan RAKYAT"

Oleh Rustam Effendi

HARI ini, 5 Oktober 1978, persis 39 Tahun yang lalu, saya pernah menulis soal "Kemanunggalan ABRI dan RAKYAT". Saat itu saya masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Lhokseumawe. Sebutan untuk ABRI pada masa itu karena didalamnya masih tergabung POLRI. Kemudian, istilah ABRI berganti setelah kesatuan POLRI tidak lagi berada didalamnya.

Kembali ke awal cerita. Waktu itu, menyambut HUT ABRI, saya ikut menukilkan sebuah tulisan untuk ikut Sayembara Menulis yang diadakan panitia untuk kalangan pelajar se Aceh Utara (masa itu masih termasuk Bireuen dan Lhokseumawe).

Dalam tulisan itu, saya ikut menyuarakan perumpamaan, "jika ABRI dengan Rakyat itu ibarat Ikan dengan Air". Keduanya menyatu, tak mungkin terpisah, atau dipisahkan. Apa jadinya Ikan, jika tak ada air? Ikan pasti akan mati. Untuk apa jua keberadaan air, jika tak ada ikan yang berenang didalamnya. Tak ada manfaatnya air, tak indah juga air adanya.

Tulisan saya itu sendiri akhirnya menjadi Pemenang Terbaik I untuk tingkat SLTP se Kabupaten Aceh Utara. Di sebuah acara resmi di Gedung KNPI Lhokseumawe, persis di samping Korem Lilawangsa, malam itu saya, si anak yatim yang lugu, yang berada dalam asuhan seorang Ibu, dipanggil nama untuk naik ke atas panggung menerima Piala itu. Bahagia dan senangnya hati ini.

Saya kembali ke rumah dengan berjalan kaki, karena tidak punya kendaraan. Jelang tengah malam tiba di rumah. Saya ketuk pintu, disambut dengan pelukan haru oleh almarhumah sang Ibu.

Saya peluk Ibu, "Mak, piala ini buat Mamak, ya,". Ibu saya memegang Piala itu. Tampak, mata Mamak berkaca-kaca dibawah cahaya lampu teplok yang kami punya. Dia eratkan pelukannya, sambil mengusap kepala saya. Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu atas Segalanya.

"SELAMAT HUT TNI"

Komentar

Loading...