Breaking News

Kekuatan Istighfar Mendatangkan Rezeki dan Anak

,
Kekuatan Istighfar Mendatangkan Rezeki dan Anak
Foto Ilustrasi Bayi Nagis

MIMBARACEH.COM -- Masalah rezeki, uang dan anak merupakan masalah yang menjadi perhatian seluruh manusia yang hidup di dunia ini. Berapa banyak manusia yang stres, bahkan tidak sedikit dari mereka yang membunuh diri sendiri berdasarkan laporan harta dan keluarga. Berapa banyak rakyat kecil yang hidupnya susah, karena sulitnya menemukan uang.

Berapa banyak pasangan suami istri di dunia ini yang mengorbankan uang dan tenaga yang tidak sedikit demi mendapatkan seorang anak. Dan berapa banyak orang melakukan kejahatan dan pembunuhan hanya ingin mendapatkan harta dengan cara cepat.

dunia ini rusak dan kacau akibat ulah manusia yang berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan hak-hak orang lain? Mengapa mereka semua itu tidak kembali kepada ajaran-ajaran Al Qur'an yang telah menjelaskan cara-cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Dalam Surat Nuh, Allah telah berjanji kepada siapa saja yang mau beristighfar dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menurunkan rezeki yang melimpah dan diberikan kepadanya yang melimpahkan.

Allah berfirman :

لْتُ اسْتَغْفِرُوا انَ ارًا لِ السَّمَاء لَيْكُم ارًاوَيُمْدِدْكُمْ الٍ ل لَّكُمْ اتٍ ل لَّكُمْ ارًا

”Maka aku katakan katakan mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, pasti Dia akan mengirimkan hujan dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuk kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) ) untukmu sungai-sungai. ” (QS. Nuh : 10-12).

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya (18/302):

الآية التي “هود” ليل لى الاستغفار ل الرزق الأمطار

“Ayat ini dan yang terdapat di dalam Surat Hud (ayat 3) merupakan dalil yang menunjukkan bahwa istighfar akan menyebabkan turunnya rezeki dan hujan.”

Hujan lebat pada ayat di atas maksudnya adalah rezeki yang banyak, hujan akan membuat tanah subur dan menumbuhkan banyak tumbuh-tumbuhan sehingga manusia dan hewan bisa makan darinya, negara menjadi makmur, kekeringan bisa terhindar, air minum yang bersih bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat . Dari hujan yang luas tersebut, kebun-kebun menjadi hijau dan sungai-sungaipun mengalir sebagaimana disebutkan di bagian akhir dari ayat di atas.

Oleh karena itu, ketika Kota Madinah mengalami kekeringan pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, beliau keluar bersama-sama penduduk Madinah untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Umar waktu itu tidak banyak berdo'a kecuali dengan memperbanyak istighfar saja.

Berkata Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur'an al-Adhim (8/233):

لهذا اءة السورة لاة الاستسقاء لأجل الآية. ا المؤمنين الخطاب: المنبر ليستسقي، لم لى الاستغفار، الآيات الاستغفار. ا الآية { لْتُ اسْتَغْفِرُوا انَ ارًا لِ السَّمَاءَ لَيْكُمْ ارًا } ال: لقد لبت الغيث اديح السماء التي ل ا المطر.

“Oleh karena itu sebaiknya membaca surat ini di dalam sholat al-Istisqa' (sholat meminta hujan) karena terdapat ayat tersebut. Dan demikianlah yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau naik mimbar untuk berdo'a meminta hujan, jika ada yang diucapkan kecuali beristighfar, kemudian membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan istghfar, diantaranya adalah ayat ini. (”Maka aku katakan mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan dengan lebat ) Kemudian beliau berkata: Saya memohon hujan melalui pintu-pintu langit yang akan turun hujan. ”

Ayat di atas juga mengajak siapa saja yang sudah menikah dan belum dikarunia anak, agar memperbanyak istighfar. Begitu juga bagi yang sulit mencari pekerjaan agar selalu banyak istighfar agar Allah memberikannya rezeki yang melimpah.

Berkata al-Qurthubi di dalam tafsirnya (18/302 ):

ال ابن : ا ل لى الحسن الجدوبة ال له : استغفر الله. ا ليه الفقر ال له : استغفر الل. ال له . ا الله لدا ال له : استغفر الل. ا ليه اف انه ال له : استغفر الل. لنا له لك ال : ا لت ا الله الى ل “نوح” : {اسْتَغْفِرُوا انَ اراً. لِ السَّمَاءَ لَيْكُمْ اراً. ارًا ال ل لَّكُمْ اتٍ ل لَّكُمْ ارًا

Berkata Ibnu Shabih : “Ada seorang laki-laki mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang kegersangan bumi, maka beliau berkata kepadanya : “'Ber-istighfar-lah kepada Allah.”Kemudian datang orang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya : “Ber -istighfar-lah kepada Allah! Dan orang lain berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya: “Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya, maka beliau mengatakan (pula) kepadanya : “Ber-istighfar-lah kepada Allah!” Mak kami menanyakan tentang jawaban tersebut kepadanya. Maka al-Hasan al-Bashri menjawab : “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam Surat Nuh. (“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,(QS: Nuh: 10-12].*/ Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA , Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI)

Komentar

Loading...