Breaking News

Fenomena Persahabatan dan Sensasi Obat Terlarang

,
Fenomena Persahabatan dan Sensasi Obat Terlarang

by Septian Murival, S.Sos 

Ini bau asap rokok..!!!!...Bukan..!!... ini ganja..Setidaknya ini kesimpulanku ketika aku masuk Ruangan yang berukuran 5x5 meter, yang perkiraanku cukup menampung beberapa orang jika ini sebuah kamar. Hanya saja lantainya yang lembab..disertai suara tetesan air dari atas plafon tua yang tak terurus lagi menghentikan ekspektasiku dari awal mengenai bayangan sebelum aku sampai ketempat ini.

Langkah demi langkah ku angkat kaki ini yang sedari tadi gemetar..berat..akibat pertanyaan yang dan rasa penasaran terus bercampur aduk didalam pikiranku. Tentang pria paruh baya yang tengah duduk sambil menghisap barang haram itu dengan rasa percaya diri. Seingatku aku tiba disini pukul 12.00..namun pengap dan gelapnya ruangan ini melumpuhkan ingatanku mengenai perkiraan sudah pukul berapa sejak aku tiba disini.

Kini aku telah berhadap-hadapan dengan pria itu, beberapa uban..bajunya yang lusuh..jenggot panjang agak kriwil yang seolah tak terurus menambah kesan betapa angkernya ruangan ini. Dari sisa puing-puing yang berserakan..aku bersumsi tempat ini dulunya sebuah toko percetakan. “akhirnya kau tiba juga” sambutnya dengan senyum yang terkesan dipaksakan. “bbberapa harganya??”. Kataku memulai percakapan. Aku tak beranjak sejak pertanyaan pertama yang lontarkan padanya. Pria itu bangun sambil melemparkan lintingan yang dia hisap sedari tadi ke lantai yang langsung mati seketika terkena genangan air.

Kulirik jam tanganku..tak terasa aku telah berada ditempat terkutuk ini 30 menit lamanya. “siapa yang menyuruhmu datang kemari??”. “Bbbboobby ..”. jawabku dengan nada terbata. Aku dan bobby telah saling kenal sejak SMA, kami sama-sama merantau di kota gudeg Jogja ini..dengan tekad kuliah serta berharap merperbaiki ekonmi keluarga.

Perbedaannya adalah dimana aku bisa menyelesaikan kuliahku dan mendapat gelar sarjana ekonomi..sedangkan bobby harus kandas...akibat terjerumus dalam dunia obat-obatan terlarang.“ouuhhh..pelanggan lama rupanya.jadi kenapa dia tidak datang langsung padaku?”. Jawabnya lagi. ahhh..kenapa mesti terjebak dengan percakapan yang memuakkan seperti ini, melihat tatapan dan bicaranya..untuk seorang pegedar barang haram ini..dia cukup hati-hati sekali..seperti penyidik kepolisian saja pikirku. “dia sedang sibuk..jadi aku kesini untuk menemuimu..apa lagi yang mesti aku jawab..bisakah kita langsung saja menyelesaikan transaksi ini..?” sahutku dengan ketus.

Umurku 25 tahun, aku bekerja sehari-harinya sebagai seorang pelayan disebuah kafe. Lumayan berkelas..kafe tempatku bekerja selalu disinggahi oleh pejabat-pejabat atau setidaknya sebutan untuk mereka-mereka yang berbalut seragam dengan menaiki mobil plat merah. Ada sedikit kebanggan dapat meihat mereka langsung, namun pertemuan itu Setidaknya itulah informasi yang kudapatkan dari pemilik kafe yang sering berbincang-bincang dengan mereka..barangkali karna posisi kafe ini berada dipinggir kota..dan jauh hiruk pikuk..atau alasan lain..ahhhh...terserahlah.

“Tom..!!!! cepat hampiri meja no tiga..”. suara Robby membuyarkan lamunanku..dia pemilik kafe ini. Seketika langsung aku menoleh kearah meja nomor tiga, yang sedari tadi celingak-celinguk mencari pelayan. “ada yang bisa saya bantu pak..??”. kata ku sambil meletakkan daftar menu diatas meja sembari mengeluarkan catatan kecil dari saku celemekku. Sedikit informasi..perihal robby..dia itu orangnya baik kok. Soal profesional dialah yang mungkin bagiku jadi panutan.

Disamping itu dia juga sangat empati terhadap bawahannya..termasuk aku. Namaku tommy, sesuai dengan umurku..aku masih tergolong muda, untuk ukuran laki-laki muda dan lajang sepertiku..masihlah mengandalkan kata persahabatan atau kenalan untuk bertahan hidup dikota besar..setidaknya ini asumsi yang kupegang ketika pertama kali tiba di kota yang penuh dengan kebisingan ini. Bobby yang pertama kali mengenalkanku dengan Robby..pemilik kafe ini. Sempat frustasi setelah kesana kemari mencari kerja pasca wisuda.Bobby mengenalkanku padanya. Sampai saat ini aku sangat berterima kasih pada bocah itu. Karena dengan biaya ini aku hidup dan membiayai adikku dikampung yang sedang mengenyam pendidikan di bangku SMA.

***

Sudah sejam lamanya aku bertatap muka sekaligus menjawab pertanyaan yang dilontarkan pria paruh baya ini. Tempat tinggal, pekerjaanku, hubunganku dengan Bobby, tempat asalku,..apapun itu akan kujawab asal aku menyudahi semua transaksi dan juga menunggu aba-aba. “huahahahaghh...tak kusangka kau sangat setia pada bocah itu, sedang kau sendiri bukan seorang pemakai. Nyalimu besar juga”. Katanya sambil tertawa. Tak lama ia mengeluarkan sesuatu dalam kantong jaket jeans kumal yang iya kenakan. Benda itu berbalut koran, dilipat segi empat, tidak terlalu rapi..mungkin saja dibungkus dengan buru-buru.

Kusodorkan uang seratus ribu..sembari tangan kananku meraih benda itu. Masih kuingat..wajah sumringah pria itu. Senyumnya..melihat selembar rupiah yang kuberikan padanya..pemandangan itu membuat jantungku berdegup kencang..disertai amarah yang meletup-letup, ditambah perasaan was-was. tak hanya itu ia juga mencium kertas bergambar presiden pertama itu. “heiii..kau..tidakkah kau tertarik dengan bisnis ini hah???.mumpung kau sudah tahu tempat ini, jika setelah ini..ada temanmu yang lain..membutuhkan kau bisa mencariku disini. Soal komisi bisa kita atur.” Katanya dengan nada serius kali ini.

Hahaha...membutuhkan? kata ini sepertinya terlalu didramatisir olehnya. Meskipun aku hidup pas-pasan sebagai pelayan..demi tuhan aku tak sudi menjadi kaki tangan manusia tak tahu diri dan bersyukur sepertinya..kata ku dalam hati. Aku masih menunggu..masih menunggu. “ Tom bersiap, ini waktunya”. Suara di headset yang sedari tadi terpasang ditelingaku muncul menambah degup jantung semakin hebat..keberanikan diri dengan lantang berkata. “apapun aku lakukan, asal kali ini, ini menjadi transaksi terakhirku denganmu”. dengan senyum. Hingga suasana tempat menjadi sengang sepersekian detik..”jangan bergerak..!!!!!”. suara lantang dan keras muncul dari belakangku. Dalam sekian percakapanku dengannya, aku hanya berbohong satu hal padanya. Aku berdusta padanya mengenai pada siapa informasiku soal tempat pesugihan para pemuja zat adiktif ini.

***

Waktu telah menunjukkan pukul 14.00..dua jam telah berlalu..dua jam peristiwa yang paling menegangkan selama hidupku..peristiwa paling berani..untuk seukuran kutu buku sepertiku. “terima kasih atas bantuannya, berkat anda kami bisa tahu dimana tempat asal mula beredarnya barang haram ini, saya selaku pimpinan disini sangat berterima kasih dan sangat mengapresiasi hal ini, semoga kedepan lebih banyak orang seperti anda”. Kata kepala kepolisian sektor kecamatan balam. “sama-sama pak, senang bisa berguna buat masa depan bangsa”. Sahutku sambil berjabat tangan. Setelahnya aku melangkah keluar ruangan.

Masih terpikir olehku nasib pengedar itu, ahhhh...buat apa..palingan dia akan menikmati hari-harinya di balik jeruji..atau menunggu waktu dihukum mati. Tempat pengedar ini aku temukan disebuah catatan saku milik bobby, selain beberapa barang lain..ini adalah barang yang sangat berarti dan kenangan dari seorang sepertinya..seorang yang periang..seorang yang tak malu berkata lantang mengenai isi pikirannya.

Tak terasa aku telah sampai di depan toko bunga, jadi kurogoh sakuku untuk mendapatkan beberapa uang. “pak..bunga kambojanya seikat.”. kembali ku langkahkan kaki..hingga aku masuk ke daerah pelosok yang jauh dari hiruk pikuk lalu lintas jalanan. Sampailah aku ditempat yang dituju. Pagar besi tua..dengan ilalang yang tumbuh subur mengelilinginya. Tulisan disebuah gapura jalan masuk..”Tempat Pemakaman Umum”. Satu persatu makam kulewati, masih segar ingatanku arahku ikut rombongan membopong jenazahnya, masih ingat jelas di benakku tulisan di pusara itu “Bobby bin Sulaiman”, dan aku masih bisa mencium bau bunga-bunga yang ikut kutaburkan di atas gundukan tanah makamnya.

Dia telah tiada, dia dikeroyok oleh warga saat ketahuan mencoba menjambret tas seorang ibu-ibu. Selama ini dia tinggal denganku..soal makan..tempat tinggal aku yang menanggungnya, setidaknya cukup. Sehari sebelum kejadian na’as itu, dia sempat memhon padaku uang untuk membeli barang haram itu. Entah telah kehabisan uang atau barang yang bisa dijual demi sensasi yang telah membuatnya ketergantungan itu. Aku memarahinya, mungkin selama ini aku bisa bersabar dengan hanya menyaksikan ia memakai benda itu. Tapi aku tidak akan memberikan sepersenpun demi keinginannya itu kali ini.

Aku pun sampai dimakam itu. Makam seorang teman..seorang..saudaraku..seorang yang berambisi meraih sarjana sepertiku. Seketika aku telah berlutut sambil mengusap pusaranya..tak lupa pula seikat bunga kamboja keletak di pusaranya. Perasaanku bercampur aduk. Antara puas dan sedih. Tak sadar mataku tlah berkaca-kaca, cairan ini begitu cepat merespon emosi majikannya. “tenanglah bob, meski aku tak bisa membawamu kembali kedunia ini, setidaknya tak akan ada bobi yang lain disekitar tempat tinggal kita, setidaknya untuk beberapa waktu”.

Penulis Alumni Fakultas FISIP UNSYIAH

Komentar

Loading...